Sinematografi: Jembatan Wawasan Perfilman Saya




 Ilmu Komunikasi, salah satu dari sederet jurusan kuliah yang ada di Indonesia yang banyak diminati oleh calon mahasiswa ataupun mahasiswa itu sendiri. Mengapa demikian? karena beragam ilmu yang dipelajari di dalam jurusan ini relevan dengan apa yang terjadi pada kehidupan manusia sehari-hari sehigga dapat lebih mudah diamati secara langsung. Ilmu komunikasi juga merupakan salah satu cabang ilmu dan jurusan kuliah dengan prospek kerja yang sangat luas, baik di bidang industri, media maupun teknologi. Jurusan ini mengajarkan para mahasiswa untuk berpikir kreatif dan mampu menganalisis suatu permasalahan dalam beragam sudut pandang. Selain itu, ada banyak cabang ilmu yang dapat dipelajari dalam jurusan ilmu komunikasi, seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi bisnis, komunikasi pemasaran, public relations, public speaking, berbagai jenis media komunikasi, bahkan hingga merambah ke dunia perfilman, salah satunya ialah sinematografi. Lantas, apa hubungan antara ilmu komunikasi dengan perfilman? 

Ilmu komunikasi sejatinya sangat erat dengan pesan-pesan dan penyampaian informasi. Film sendiri merupakan suatu karya sekaligus menjadi salah satu dari berbagai macam media yang digunakan dalam komunikasi massa yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi sekaligus media hiburan bagi seluruh lapisan masyarakat. Bagi kalian anak ilmu komunikasi pastinya sudah tahu bahwa ada sebuah    mata kuliah yang khusus mempelajari bermacam hal yang berhubungan dengan perfilman. Kalian yang sudah tahu, let’s spill the tea! Yass, Sinzematografi. Ketika baru menginjak semester awal di jurusan ilmu komunikasi ini, saya sering mendengar istilah sinematografi ini dari beberapa kakak tingkat yang ada di kampus, ternyata tebakan saya benar. Mata kuliah Sinematografi pasti berhubungan erat dengan dunia perfilman karena saya ingat bahwa kata sinema memiliki arti film atau gambar hidup. 

Awalnya saya tidak terlalu menyukai mata kuliah ini karena saya sendiri merupakan orang yang tidak terlalu menyukai film, dulu saya sering menganggap bahwa kegiatan menonton film merupakan sesuatu yang membosankan dan hanya membuang waktu, lebih baik belajar dan melakukan hal-hal produktif lainnya. Sejujurnya, sampai dengan diterbitkannya tulisan ini, saya baru 3 (tiga) kali menonton film di bioskop seumur hidup saya. Dulu saya hanya akan menonton film jika saya benar-benar butuh menonton film tersebut, seperti ketika dipaksa oleh teman sepermainan, mendapat tugas dari guru, film yang sedang menjadi trending topic, contohnya film Disney Frozen 2 yang serentak ditayangkan di penghujung tahun 2019 dan media untuk belajar bahasa Inggris yang saya lakukan sampai saat ini karena berhubungan dengan pekerjaan saya sebagai a private English teacher dan bahasa Inggris sendiri juga telah menjadi bahasa kedua saya sehari-hari selain bahasa daerah (Palembang) dan bahasa Indonesia. 

Singkat cerita, saat ini saya sedang berada di semester IV dan bertemu dengan mata kuliah yang telah diceritakan di atas, sinematografi. You know what? Setelah mempelajari sinematografi dalam beberapa pertemuan terakhir, well, it isn’t that bad and I’m interested in it. Kenapa begitu? Melalui mata kuliah sinematografi ini mampu membuka wawasan saya terhadap dunia perfilman semakin luas, di balik sebuah film yang habis disaksikan dalam beberapa hitungan waktu, tersimpan kisah di balik layar yang tidak bisa dianggap sepeleh. Saya yakin, terdapat ide-ide brilian yang mengilhami terciptanya sebuah karya film dengan pemikiran dan pertimbangan yang sangat matang dan hati-hati di belakangnya. Hal tersebut merupakan salah satu dari beberapa alasan yang dapat memotivasi saya untuk mempelajari sinematografi lebih dalam. 

Apa itu sinemtografi? Lemme let u know about it. Bagi para penghobi film tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah sinemtografi, bagaimana dengan kamu? Tentunya kamu harus paham dengan sinematografi, siapa tau di masa mendatang kamu menjadi generasi penerus yang akan menghidupkan dunia perfilman, khususnya di Indonesia. Sinematografi merupakan bidang ilmu terapan yang membahas tentang teknink pengambilan gambar dan menggabungkannya, yang termasuk di dalamnya rangkaian ide cerita yang dimuat dalam bentuk video. Sinematografi ini sebenarnya memiliki objek yang sama dengan fotografi, yakni dengan menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena memiliki objek yang sama, maka peralatan yang dibutuhkan terbilang mirip, namun tetap terdapat perbedaan diantara keduanya. Apa bedanya?  Hal yang membedakan keduanya ialah fotografi hanya menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Ide yang disampaikan dalam fotografi dilakukan dengan pemanfaatan gambar tunggal, lain halnya dengan sinematografi yang menyampaikan ide dengan memanfaatkan rangkaian gambar. Dengan kata lain, sinematografi merupakan gabungan antara fotografi dengn Teknik perangkaian gambar. 

Teknik ini sudah tidak asing lagi diterapkan dalam dunia perfilman dan sangat dekat dengan film. Dalam dunia sinematografi, tepatnya industry perfilman, seorang sinematografer dikenal dengan sebutan DOP (Director of Photography). Seorang DOP merupakan salah satu dari banyak orang di balik sukses atau gagalnya suatu produk film. Seorng DOP bertanggungjawab atas kru kamera dan pencahayaan dalam pengambilan gambar. Sebagai informasi, DOP memiliki posisi yang lebih tinggi disbanding videographer dan lighting. Seseorang yang memegang posisi sebagai DOP juga betanggungjawab pada sutradara dalam hal yang berhubungan dengan Teknik pengambilan gambar, komposisi, pencahayaan, perpindahan kamera, penggunaan filter, dan beberapa hal krusial lainnya. 

   Sejujurnya, masih terlalu dini bagi saya untuk memberikan penilaian terhadap mata kuliah sinematografi ini. Namun, Saat ini bisa saya tuliskan melalui tulisan ini bahwa saya sudah mulai tertarik dengan mata kuliah ini. Ditandai dengn semakin sering saya mencari informasi seputar dunia perfilman dan mulai kembali tertarik untuk menonton film. Lucunya, kalua dulu saya menonton film hanya untuk melihat hal-hal menarik dan segi visualnya saja, namun sekarng saya benar-benar mencoba memperhatikan setiap detail yang terdapat pada setiap film yang ditonton. That’s truly amazing!!  

Melalui tulisan ini juga saya membahas tentang materi sinematografi yang saya sukai sekaligus membuat saya tertarik untuk mempelajari mata kuliah ini. Ketika saya mengakses sebuah dokumen berisi RPS (Rencana Pembelajaran Semester), perhatian saya tertuju pada 2 (dua) materi yang akan dipelajari dalam mata kuliah ini, yakni Mise-En-Scene & Sinematografi: Aspek Kamera dan Film, Framing, dan Durasi Gambar, dan Editing, Suara, Opening & Ending Credits. Saya benar-benar memliki ketertarikan yang besar terhadap kedua materi tersebut, saya harap antusiasme saya semakin besar ketika mempelajarinya nanti, bukan hanya sekedar antusiasme yang bersifat sementara. Selain itu saya berharap agar terdapat banyak ilmu yang bisa saya gali dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata, khususnya berkaitan dengan perfilman. 

 Sebagai seorang mahasiswa ilmu komunikasi, saya rasa sudah menjadi tanggung jawab saya untuk memahami berbagai hal berkenaan dengan komunikasi dan perfilman. Oleh karena itu, sama seperti banyak mahasiswa ilmu komunikasi lainnya, saya juga berkeinginan untuk tidak hanya menjadi penonton ataupun penikmat film, namun juga menjadi insan yang dapat melahirkan suatu karya film. Jika saya diberi pertnyaan tentang judul film yang akan saya produksi, saat ini saya belum bisa memberikan jawaban yang pasti. Namun, saya memiliki gambaran dan antusiasme yang besar untuk menggrap sebuah film di mana film tersebut merupakan penggabungan antara dunia fantasi, animasi, dan sentuhan teknologi terkini. Saya terinspirasi dari fim-film animasi yang diproduksi oleh Walt Disney Pictures. Film yang saya harapkan tidak hanya mampu memenuhi sisi hiburan, namun juga mampu menyajikan sebuah film yang sarat akan makna, pembelajaran, dan ilmu pengetahuan yang mampu menginspirasi setiap orang yang menontonnya. 

 To sum up, sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, mempelajari sinematografi merupakan hal krusial yang harus dijalani. Hal ini dilakukan bukan semata untuk memenuhi syarat dalam mencapai impian, memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, namun juga memberikan kesadaran bahwa sinematografi merupakan komponen penting yang diterapkan dalam proses pembuatan film. Film sendiri merupakan bagian dari bentuk komunikasi, yakni komunikasi massa yang memilliki peran penting dalam memproses pesan untuk kemudian disampaikan pada khalayaknya. Belajar sinematografi juga memberikan saya arti penting bahwa proses penciptaan karya film bukan sesuatu yang mudah di mana hal tersebut menuntut kreativitas tinggi dan penguasaan berbagai teknik yang diperlukan, salah satunya sinematografi ini. Jadi, dapat saya sampaikan melalui tulisan ini bahwa ssinematografi merupakan jembatan wawasan perfilman saya. Saya harap tulisan ini dapat bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi teman-teman yang telah membacanya. See you later!!


Comments

Popular posts from this blog

Review 10 Judul Skripsi Ilmu Komunikasi Mahasiswa STISIPOL Candradimuka Terbaik Menurut Kiagusnurcholis

Kuliah Kerja Nyata (KKN): Suatu Pengalaman Hidup yang Sangat Berharga

Mengenal Film Fiksi dan Ragam Jenisnya (Aksi, Petualangan, dan Superhero)